Minggu, 21 Agustus 2011

Dua Orang Perancis

Perjalanan menuju Ambarawa dalam rangkaian acara pulang kampung membawa kesan yang berbeda kali ini buat gw. Dalam perjalanan itu, tepatnya di daerah Muntilan, gw ketemu dengan dua orang turis asal Perancis yang memiliki pribadi yang sangaaaat menyenangkan!
Kalau bukan karena gw kepo setengah mati sama attitudenya mereka, dan pingin mengaplikasikan bahasa asing yang pernah gw pelajari, ga mungkin kayak gini deh ceritanya XD

Pertama, gw masuk ke dalam bus umum arah Semarang. I met a woman. Kulitnya putih, rambutnya berwarna pirang dengan rambut dikuncir bundel ke atas. Dia duduk dengan santai, nyaman, memakai celana pendek motif army, dan singlet berwarna hitam. Waktu gw bawain tasnya ortu dan nyari tempat duduk buat kami berdua, wajah dan mata kami bertemu, dan dia melemparkan senyum ke arah gw. Trus gw mikir, apakah gw perlu melakukan percakapan dengan orang asing ini?

Nyokap gw yang jarang-jarang banget lihat bule sih kelihatannya santai-santai aja kalo gw membuka percakapan. Makaaaa jadilah kami ngobrol selama perjalanan, dimulai dari Muntilan sampai dengan Ambarawa, Jawa Tengah. Dari pukul dua belas siang sampai setengah empat sore. Hehehe

Namanya Estle. Dia adalah warga asli Perancis dengan darah setengah Portugis dari Ayahnya dan Perancis dari Ibunya. Ia tinggal dan menetap di Perancis, dan sedang menghabiskan masa liburan *dan euro-nya*di Indonesia. Oh my, dia bilang kalo udah bosen keliling Eropa, dan lebih suka berpetualang ke Asia. Ia cerita kalau baru kemarin dari Sumatera, dan unfortunately hujan masih mengguyur deras di sana. Oleh karenanya doi pindah ke Yogyakarta, dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju Jepara untuk melanjutkan jalan-jalan ke Pulau Karimunjawa. 
Estle sangat cantik.  Bola matanya berwarna coklat. Ia tidak melakukan perjalanannya ini sendirian. Ada seorang Mr. X yang menemani dia. Doski dateng setelah dari toilet di Terminal Muntilan. Kayaknya nyasar gitu hehe. Estle bilang kalo doi sama pacarnya ini nggak menikah. Mereka sedang di mabuk asmara, tapi nggak memutuskan untuk menikah. Yah, istilahnya kumpul kebo-lah kalo di Indonesia. Hihihi. Doi bilang kalo di Perancis itu menikah enggak segitu pentingnya kayak di Indonesia. Dan, gw setuju dengan pandapatnya dia. Menikah itu nggak penting. Komitmen itu yang PALING penting. #tampokmuka.

Nah, gw memulai percakapan ini dengan statement gw tentang indahnya kota Paris itu. Gw bilang sama dia kalo temen-temen gw di Indo aja segitu pinginnya *demikian juga dengan gw* untuk pergi ke sana. Bahkan menetap di sana. Estel setuju. Tapi berhubung doi adalah warga asli Prancis yang sudah 30 tahun hidup dan menetap di sana, dia merasa udah kayak biasa aja. Dia bilang kalo musim terbaik pergi ke Paris adalah saat bulan Juni di mana belum banyak turis yang dateng, dan hawanya sejuk dan nggak dingin-dingin amat. FYI: dia bilang kalo sebetulnya masyarakat Prancis itu orangnya individualis. Mereka suka berkumpul dengan anggota komunitas atau dari keluarganya aja. Emang sih tinggal di Paris itu romantis, tapi jangan harap mendapatkan cowok Prancis yang romantis. Meskipun mereka punya banyak uang, mereka tidak terlalu suka tersenyum. Emosinya biasa-biasa saja bahkan cenderung gloomy. Begitu kata Estle menasehati gw dalam urusan jodoh. Hehehe.
Yang mengejutkan adalah ternyata doi ini beragama Katolik. Kaget kan gw, di saat kaum muda Katolik sedunia kini sedang beradorasi dan pergi ke Madrid untuk ikutan World Youth Day 2011, eh eh eh doi sama pacarnya malah jalan-jalan ke Indo. Estle bilang kalo sebenernya dia nggak suka sama liturgi, percaya sih sama Tuhan, tapi dia mengaku hanya berdoa dalam hati. Wow, itu adalah kalimat yang sangat jujur yang gue denger hari ini.

Seandainya ya gw hari ini jalan sendirian, mungkin gw bakal ikut mereka ke Karimunjawa deh. Soalnya rencana mereka buat seneng-seneng dengan harga yang murah-meriah tuh setipe sama cara jalan-jalan gw. Bedanya sama gue mungkin mereka ini masih belum terbiasa dengan masakan Indonesia yang beraneka bumbu, sukanya pake banyak santan, dan dimasak dengan minyak atau mentega yang sangaaat banyak. 

Setelah kami berdua berbicara begitu banyak (si cowok tetep diem karena doi sama sekali nggak bisa bahasa Inggris) dan si Estle pun capek kalo harus mentranslate percakapan kami dengan bahasa Prancis, kami sepakat untuk saling menghubungi kembali by email atau facebook. 
Huah, sampai ketika gw berpamitan dan bilang kalo gw harus turun dari bus umum yang mendekatkan kami itu, hati gw berasa ganjil gimanaaa gitu. Gw sedih pisah dengan dua teman gw yang baru ini.

Gw berharap sih mereka sampai di Jepara dengan selamat, menikmati penyeberangan mereka ke Karimunjawa, naik ke gunung Bromo, dan bersenang-senang di Bali.

I promise to my self Estle, I will go to the Paris someday and meet you agaiiin!
Hear my prayer to them God, save them until they are back to their country. Ameeen.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar