Jumat, 26 Agustus 2011

Rumput Tetangga Terkadang Lebih Hijau

Well, temen gw Aan bentar lagi akan berangkat ke Ausie. Yogi bakal exchange ke Jepang. Diku, udah mondar-mandir aja ke Europe. Ah, so damn. Gw masih aja di sini. Di Jakarta.
Kata orang: kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina. Gw rasa pepatah itu benar, dan apapun itu gw akan berusaha mewujudkannya. Sebagian besar temen-temen gw melewatkan libur semester panjang ini untuk melakukan banyak hal. Minimal mereka pernah deh pergi ke Singapore, ke Universal Studio, ikut konferensi atau seminar di belahan bumi yang lain, atau workshop dan sejenisnya. Well, gw nggak ke mana-mana. Masih di sini-sini aja. Gw jelas nggak berbangga dengan keadaan gw itu. Gw juga pingin seperti mereka, apalagi rasa keingintahuan gw untuk mengintip kehidupan di negara lain sangat besar, ditambah dengan jiwa plesir gw yang ibaratnya sangat tinggi dan memuncak sewaktu-waktu. Hihihi. Namun, selama gw mikirin hal-hal itu, semakin ngerasa kecil aja gw lama-lama. Belum pernah ke sini lah, belum pernah ke situ lah, prestasi pas-pasan lah, IP standarlah, nggak produktif lah. Oh my, gw mati mengiri deh lama-lama kuliah di UI.
Saat gw pulang ke Kudus ini, gw merasa segalanya berjalan dengan sangaaaat lambaaan. Misalkan dalam hal berkendara. Di sini semua orang berkendara dengan semua jenis transportasi dengan kecepatan yang pelan. Alon-alon asal kelakon, pelan-pelan asal sampai. Duh bener banget deh, sampai-sampai bisa banget jalan dengan mata tertutup di Kudus ini. Bagaimana dengan pendidikan? Well, pendidikan wajib dasar 12 tahun di Kudus terbilang lumayan. Prestasi anak didik mampu meningkatkan citra Kudus di kancah pendidikan regional Jawa Tengah. SMP-SMA gw pun sekarang berembel-embel Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Dhuar! Nah, yang terakhir ini yang bikin gw ngeri. Tingkat pernikahan usia dini di Kudus ini masih tergolong tinggi. Contoh nyata nya ada di Desa gw sendiri. Kebanyakan perempuan usia lulus SMA akan segera berakhir di pelaminan setelah ada laki-laki yang memintanya untuk menikah. Temen-temen gw jaman TK, SD, dan teman sepermainan di deket rumah kondisinya seperti itu sekarang. Saat gw pulang ke rumah kayak gini, dan mendapati kenyataan itu, gw merasa sangat bersyukur. Di usia 20 ini gw masih kuliah strata satu di sebuah universitas terbaik di Indonesia. Tinggal di kota metropolitan seperti Jakarta. Melek media, dan mendapatkan semua fasilitas hidup yang memadai. Well, melihat temen-temen gw dengan usia yang sama sudah menikah, menggendong anak, mengantarkan anaknya sekolah membuat lidah gw tercekat.
Sejak hari ini gw merasa kalau hidup gw jauh lebih beruntung daripada mereka. Baiklah, gw emang belum pernah ke luar negeri. I will go there someday, maybe in Ausie, US, London, or Amsterdam. Dan gw ngrasa ini hanyalah masalah waktu. Suatu saat nanti, gw yakin pasti bisa sekolah ke luar negeri dengan rentang waktu yang cukup lama. Minikmati kehidupan di sana sebagai pelajar, turis, budak plesir, dan wartawan. Setelah selesai, gw akan pulang ke tanah air dan memajukan pendidikan di negara ini. Gw nggak mau banyak anak muda putus sekolah dan lebih memilih untuk menikah dini. Mereka harus bisa meraih mimpi, seperti halnya dengan gw. Mereka harus pintar, terdidik, dan bisa mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang bagus untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga mereka.
Bener sih, pergi keluar negeri itu ok, tapi nggak harus sekarang juga kan? Semuanya berproses.
Bersyukurlah, walaupun memang tampaknya rumput tetangga terlihat jauh lebih hijau :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar